Facebook

Real Facebook

Akhir- akhir ini kita banyak mendengar berita- berita negatif tentang facebook ataupun twitter di media. Contohnya seperti pemakai twitter yang dibilang bego, anak dibawah umur diculik atau hilang yang dicurigai hilang bersama teman facebooknya, perkawinan yang hancur gara- gara pasangannya “cheating” dengan teman dari facebooknya, kasus pertemanan yang hancur gara- gara saling ejek di social media, atau malah ada kasus pembunuhan oleh sang suami gara- gara marital status istrinya “looking for men”. Benarkah social media 100% bertanggung jawab atas semua masalah- masalah itu ?

Social media seperti facebook, twitter, friendster, linkedin dan lainnya merupakan salah satu sarana pergaulan yang paling banyak diminati sekarang. Mungkin istilah ” social media is the new punk rock   sudah melekat dipikiran anak- anak jaman sekarang, tidak ingin kalah dengan teman- temannya, tidak bisa keluar rumah karena dilarang orang tuanya, atau banyak aspek lain yang menyebabkan para pemakai social media ini melonjak. Kini hampir semua anak ingin mempunyai account sendiri di situs pertemanan ini. Tidak hanya golongan muda saja yang ingin berperan serta, golongan tua juga ikut meramaikan dan berlomba- lomba untuk dapat eksis di dunia maya ini ( Facebook will kill your GPA ) .Narsisme tingkat tinggi, bersikap anti-social, acuh terhadap kehidupan sekitarnya, kecenderungan untuk mempunyai kepribadian ganda, mencari penghasilan lebih di dunia maya, atau sekedar ingin menghabiskan waktu yang lama- lama menjadi lupa waktu. Hal ini yang akhirnya memicu pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil keuntungan dari moment ini.

Beberapa pihak memandang sebelah mata dan tidak dapat menerima keadaan ini dan mengantisipasinya dengan bermacam- macam respons seperti memblokir akses ke website social media, , merancang peraturan untuk membatasi ruang gerak ( #RPM kontent ), atau malah ada yang mencoba mengeluarkan fatwa haram bagi penggunanya.

Dengan meningkatnya Interaksi sosial manusia ini, saya rasa adalah tugas dan kewajiban para individu masing- masing untuk mempersiapkan dirinya menghadapi gerakan social media ini. Caranya ? Mungkin sebagai orang tua atau lebih orang yang lebih mengerti sudah sewajarnya mengajarkan dan menerangkan apa itu social media , kegunaan dan manfaatnya ( internet safety for kids and teen ).   Menyadari dan mengerti bagaimana etika social media ( 12 tips for safe social media ) menjadi hal yang penting, selalu berfikiran positif dan berniat baik ( baca : internet sehat tifatul ), bertanya pada yang lebih tau, jangan sembarangan membagi data- data pribadi ( bisa dengan setting privacy ), dan selalu “respect others people”. Kemajuan internet yang sangat pesat memaksa kita harus tetap dapat mengikutinya, kemajuan tehnologi bisa meninggalkan anda jauh dibelakang  jika anda tidak peka dan fleksible dalam menanggapinya.